Home / WISATA

Senin, 5 Maret 2018 - 17:26 WIB

Menjelajah Masa Lalu di Bekas Pabrik Gula Colomadu Karanganyar Jawa Tengah

Desa Merdeka – Karanganyar : Ketika mengunjungi bangunan bekas Pabrik Gula (PG) Colomadu di Jalan Adisucipto, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pertengahan pekan lalu, seperti menjelajah ke masa lalu, kala perusahaan pengolah gula ternama itu pernah mencapai masa kejayaannya medio 1928.

Dari Jalan Adisucipto, bangunan megah seluas 1,3 hektare yang berdiri diatas lahan 6,5 hektare ini belum terlihat jelas.

Ada papan-papan tinggi milik PT Pembangunan Perumahan (PP) yang menutupi hampir sebagian bangunan lawas tetapi masih kokoh dan sangat megah itu.

Begitu pintu proyek dibuka dan memasuki halaman PG, baru terlihat jelas “keangkuhan” bangunan yang dulu diperuntukkan sebagai pabrik gula tersebut.

Selain luasnya lahan luas mengelilingi PG, bangunan PG Colomadu juga dikenal khas karena cerobong uapnya yang menjulang tinggi.

Kendaraan lalu diarahkan ke pintu masuk utama bekas PG Colomadu. Diatas pintu masuk yang juga masih terlihat kokoh ini terlihat jelas penanda bangunan, “PG Colomadu, Tahun 1861.”

Baca Juga :  Menikmati Hidangan Warung Makan Gapura Kaliombo Jepara Mantap

Angka tahun tersebut menjelaskan, waktu pembangunan PG yang kala itu dilaksanakan era pemerintahan Mangkunegara IV.

Ada dua pintu utama yang berhimpitan di bagian depan bangunan kuno, tapi tetap dipertahankan `kecantikan’ dan `keindahannya’.

Suasana di masa lalu yang mengagumkan semakin terasa saat kaki melangkah masuk melewati pintu berukuran besar tadi.

Di depan mata terlihat empat roda gendem kuning yang sebagian sudah tampak berkarat dengan ukuran sangat besar.

Di zaman keemasannya, roda gendem hanya salah satu bagian yang dipakai PG Colomadu untuk mengolah tebu menjadi nira, kemudian diubah butiran gula halus.

Di lobi, ruangan pertama setelah pintu masuk, empat roda gendem terpasang. Saat proses penggilingan tebu dilakukan, mereka bekerja bersama mesin-mesin berukuran besar lainnya, terutama roll penggiling.

Roda gendem akan berkaitan dengan mesin penggiling tebu dan mesin uap di samping kanan dan kirinya.

Saya membayangkan keelokan mesin-mesin pengolah tebu yang kala itu langsung didatangkan dari Eropa.

Alurnya kira-kira seperti ini, ketika mesin penggiling tebu berputar, air tebu akan ditampung dalam wadah besar, sementara sisa-sisa tebu (biasa kulit dan pelepah tebu) akan dialirkan menuju ke cerobong asap yang tinggi tadi.

Sisa-sisa pengolahan (limbah) tebu tetap dipakai sebagai bahan bakar untuk menghasilkan uap. Uap panas ini kemudian disalurkan ke mesin uap yang tersambung dengan roda gendem.

Uap itu kemudian akan menggerakkan roda gendem hingga berputar. Putaran itu menggerakkan mesin penggiling tebu.

Demikian seterusnya mesin-mesin itu bekerja. Saat mesin giling (milling) berputar berkali-kali sampai ampas tebunya lepas dan keluar air, air kemudian akan dialirkan ke tabung-tabung yang juga tidak kalah besarnya. Tabung-tabung tadi akan terus diisi sampai air penuh.

Sumber : Wartakota

Share :

Baca Juga

HEADLINE

Lulusan Pariwisata, Mesti Bisa Diberdayakan di Desa Masing-Masing

WISATA

Wift Dijadikan Momentum Populerkan Kembali Batu Bacan di Malut.

WISATA

Jalur pendakian Merbabu ditutup sementara

HEADLINE

Resto bergaya kerajaan Majapahit Kuno

WISATA

Kepulauan Kei, Keindahan Terpencil di Maluku Tenggara

WISATA

Tarian "DIDONG" Anak GETSEMPENA Hipnotis Penonton

WISATA

DPC GMNI Purwokerto menyelenggarakan Nonton Bareng Film “Ketika Bung Karno di ENDE”

DAERAH & DESA

Tradisi Unik, Warga Dusun Kasuran Dilarang Tidur Beralaskan Kasur Kapas
WhatsApp WhatsApp Redaksi