Home / SIARAN PERS

Senin, 10 Oktober 2016 - 09:37 WIB

LPBI NU DKI Jakarta Menyelenggarakan Workshop Dasar-dasar Penanggulangan Bencana

Yayah Ruchyati

Yayah Ruchyati

Desa Merdeka – Jakarta : Provinsi DKI Jakarta merupakan Ibu Kota Republik Indonesia yang memiliki permasalahan kebencanaan yang komplek. Dengan luas 661,52 km2, 40% atau 24.000 hektar merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata di bawah permukaan air laut. DKI Jakarta juga merupakan pertemuan sungai dari bagian Selatan dengan kemiringan dan curah hujan tinggi. Terdapat 13 sungai yang melewati dan bermuara ke Teluk Jakarta. Secara alamiah, kondisi ini memposisikan wilayah DKI Jakarta memiliki kerawanan yang tinggi terhadap bencana.

Beberapa wilayah DKI Jakarta, pada musim penghujan menjadi wilayah banjir. Dari catatan sejarah kejadian banjir, banjir besar pernah terjadi pada tahun 1621, 1654 dan 1918. Banjir besar juga terjadi pada tahun 1976, 1996, 2002, 2007 dan 2013. Banjir tahun 1996 menggenangi hampir seluruh penjuru kota. Kejadian ini menjadi tragedi nasional dan mendapat perhatian dunia. Banjir tahun 2007 juga memiliki cakupan wilayah genangan lebih luas. Berulangnya kejadian banjir per lima tahun menyebabkan banyak kalangan mempercayai sebagai siklus lima tahunan. Kerusakan dan kerugian terhadap aset terkena banjir yang melanda DKI Jakarta, Bogor, Depok, tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) tahun 2007, baik milik pemerintah, aset dunia usaha dan aset masyarakat diperkirakan senilai Rp.5,16 trilyun.

Baca Juga :  Tekan Inflasi di Desa, Pemerintah Siapkan Aplikasi Harga Pangan

Resiko bencana di DKI Jakarta dipengaruhi oleh ancaman bencana, kerentanan dan kapasitas dalam menghadapi ancaman yang ada. Curah hujan tinggi dalam waktu yang pendek meningkatkan tingkat bahaya banjir akibat topografi wilayah, daya dukung lingkungan yang semakin menurun maupun kerentanan dan kapasitas warga dalam menghadapi ancaman bencana. Penurunan permukaan tanah yang diakibatkan oleh ekspoitasi air yang berlebihan dan pembangunan insfrastruktur semakin meningkatkan ancaman banjir dan meningkatkan kerentanan wilayah maupun komunitas DKI Jakarta.

Baca Juga :  Diduga Adolof Seleky Aktor pemukulan Aktivis Anti Korupsi Fredy Ulemlem

Sebagai langkah awal  Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU)  DKI Jakarta   meningkatkan kapasitas anggota dalam penanggulangan bencana, dengan melaksanakan “Workshop Dasar-Dasar Penanggulangan Bencana “ Untuk meningkatkan pemahaman para pengurus LPBI NU DKI   tentang penanggulangan bencana. Dan ini juga  sebagai hasil Rapat Kerja ‘nawa karya program LPBI NU DKI jakarta.

Nara sumber yang hadir diantaranya Yayah Ruchyati, Sekretaris PP LPBI NU dan M. Wahib, Tenaga Ahli Bidang Bencana Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi yang juga Ketua PW LPBI NU DKI Jakarta.

Asep Sabar Utama, Ketua Panitia menerangkan bahwa materi-materi yang disampaikan pada  workshop ini meliputi: 1. Peran NU dalam Penanggulangan Bencana, 2. Dasar-dasar Penanggulangan Bencana (a.Konsepsi Dasar Penanggulangan Bencana, b. Sistem Nasional Penanggulangan Bencana, c. Siklus Penanggulangan Bencana) 3. Tindakan Pengurangan Risiko Bencana. (*)

 

Share :

Baca Juga

SIARAN PERS

Penyaluran BLT Dana Desa Kemendes Dapatkan Apresiasi Dari KPK

SIARAN PERS

Hari Pramudiono : Bumdes dan Gapoktan Adalah Kekuatan Social Capital

SIARAN PERS

Rektor Universitas Muria Kudus Apresiasi Dukungan Media

SIARAN PERS

Aroma Pungli Pembuatan Profil Desa di Bolmong Berhembus
Tawaran Program Hibah Bina Desa

HEADLINE

Tawaran Program Hibah Bina Desa

SIARAN PERS

Tanamkan Nilai-nilai Karakter Melalui Kemah Santri
Asosiasi Media Digital Desak Tindak Tegas Konten Berbau SARA di Pilkada

HEADLINE

Asosiasi Media Digital Desak Tindak Tegas Konten Berbau SARA di Pilkada

SIARAN PERS

Warga Batang Minta PLTU Dihentikan
WhatsApp WhatsApp Redaksi