Home / WISATA

Senin, 5 Maret 2018 - 15:30 WIB

Ini Dia Air Terjun Genting di Desa Bawang yang Penuh Pesona

Desa Merdeka – Batang : Panorama asri dengan lanscape pepohonan pinus menyertai perjalanan menuju ke Curug (Air Terjun) Genting di Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Udaranya begitu segar di dada dan meresap hingga kepala.

Air terjun dengan ketinggian sekitar 45 meter ini menghadirkan nuansa berbeda

 Letaknya berada di lereng Gunung Kamulyan, berbatasan langsung dengan Dataran Tinggi Dieng.

Airnya jernih, berasal langsung dari mata air pegunungan.

Pintu masuk lokasi wisata ini ditandai dengan gapura berwujud wajah Betara Kala yang mulutnya menganga.

Gapura Betara Kala ini dilengkapi dengan aksara Jawa di bagian pelipisnya yang bertuliskan “Wening Manjing Gapuro Tunggal”.

Tulisan tersebut merupakan sebuah sengkalan atau penandaan waktu yang biasa digunakan oleh orang Jawa Kuno.

Menuju curug ini tidak mudah, sebab kita harus menuruni sekitar 500 anak tangga dengan tingkat kecuraman berbeda-beda.

Tapi jangan kuatir, sepanjang perjalanan akan disuguhi pemandangan menawan. Pohon-pohon besar berpadu dengan dinding batu berukuran besar, dengan patahan-patahan yang artistik, bisa menjadi spot selfie.

Sampai di depan air terjun, mata terbelalak dengan suguhan pemandangan.

Air jatuh melintasi bebatuan dengan keras, membuncahkan buih-buih mempesona beserta embusan angin yang menentramkan hati.

“Tidak ada hal lain yang dirasakan selain ketenangan dan rasa bersyukur kepada Tuhan atas penciptaan-Nya yang indah ini,” begitu kata pengunjung bernama Pria Triatmaja (21) saat Warta Kota berkunjung ke curug itu beberapa waktu lalu.

 “Jika beruntung kita bisa menyaksikan pelanggi di bawah air terjun. Tunggu saja sebentar lagi kalau sudah tidak mendung,” imbuhnya.

Tapi sayangnya, beberapa jam keberadaan Warta Kota di sana, langit sedang tidak bersahabat.

Baca Juga :  Resolusi Traveling Buat Para Traveler di Tahun 2017

Awan gelap memayungi kawasan itu, sehingga pelangi yang dinantikan urung datang.

Air terjun ini belakangan kembali ramai dikunjungi setelah sebelumnya sempat ditutup cukup lama.

Penyebabnya, saat itu dinding batu menuju area curug longsor. Namun kini lokasi itu kembali dibuka dan dikelola oleh masyarakat sekitar.

Belum banyak mendapat sentuhan, membuat kondisi Curug Genting tampak natural.

Hal itu terbukti dengan masih adanya hewan semisal monyet liar yang bergelantungan dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain.

Bahkan, jika beruntung, wisatawan dapat juga melihat elang Jawa yang bertengger di dahan pohon yang ada di sepanjang jalan.

“Tapi belakangan Elang Jawa jarang muncul di sini karena banyak diburu orang yang tidak bertanggungjawab,” kata Pria.

 

Air Goa

Nama Curug Genting diambil dari dua fenomena alam yang terdapat di lokasi ini, yaitu Curug (Air Terjun) dan Genting (Gua).

Di lokasi ini, selain terdapat air terjun, juga terdapat goa alam dengan kedalaman lebih kurang 20 meter.

Di dalam goa tersebut mengalir air yang dingin melalui sela-sela bebatuan.

Di satu lokasi juga terdapat spot selfie yang telah dikonsep sedemikian rupa.

Pengunjung bisa berfoto di taman atau rumah pohon dengan backgound air terjun

Di balik moleknya kawasan itu sebagai lokasi wisata, sejumlah orang mengkeramatkan sebagian area hutan di sekitar air terjun.

Konon, di beberapa titik di lokasi itu, disebut angker dan ada pantangan-pantangan tertentu bagi orang yang datang.

Namun, sejumlah pengunjung mengaku tidak begitu melihat Genting dari sisi tersebut.

“Sah-sah saja orang yang mungkin punya penerawangan. Tapi bagi saya, lokasi ini sebuah anugerah Tuhan yang bisa kita nikmati dan syukuri. Asalkan kita bisa jaga sikap saja, dan itu kan berlaku dimanapun tidak hanya di sini,” kata pengunjung bernama Prasetyo (25).

 

Akses

Tidak ada cacatan pasti kapan air terjun itu ditemukan. Lokasinya cukup berdekatan langsung dengan kawasan kebun teh Pagilaran yang pada masa lalu dibangun oleh Belanda.

Jika sebelumnya kawasan ini adalah hutan belantara, sebagian lahannya kemudian digunakan Perum Perhutani untuk membuka hutan pinus.

Namun belakangan pohon pinus mulai berkurang akibat penebangan masif.

Loket karcis berada di awal ketika kita memasuki hutan pinus. Satu orang, dikenakan Rp5000.

Sepanjang perjalanan menuju ke tempat wisata itu, banyak terdapat warung tenda yang menjual aneka makanan atau untuk sekadar ngopi sambil menikmati pemandangan segar.

Mulai dari kawasan hutan pinus, hingga daerah tangga menuju area air terjun.

Beberapa catatan penting perlu diperhatikan pengunjung Curug Genting.

Selain kewajiban menjaga kebersihan, larangan keras lainnya yakni menyentuh dinding-dinding batu yang terbentang di sepanjang perjalanan menuru area air terjun.

Curug Genting bisa ditempuh melalui kota Batang menuju arah selatan sekitar 25 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Sampai di Kecamatan Blado, selanjutnya menuju arah Desa Bawang. Sejumlah papan petunjuk yang terpasang sejak dari Kota Batang juga bisa mempermudah kita menuju lokasi wisata ini.

Sumber : Wartakota

Share :

Baca Juga

DAERAH & DESA

IRI : PENAMBANG BATU GIOK JANGAN DILARANG TAPI DIATUR

WISATA

Tarian "DIDONG" Anak GETSEMPENA Hipnotis Penonton

WISATA

Wift Dijadikan Momentum Populerkan Kembali Batu Bacan di Malut.

DAERAH & DESA

Tradisi Unik, Warga Dusun Kasuran Dilarang Tidur Beralaskan Kasur Kapas

WISATA

Es Cendhol "Moro Seneng" Kudus Jan Ngengeni !!!!!

WISATA

DPC GMNI Purwokerto menyelenggarakan Nonton Bareng Film “Ketika Bung Karno di ENDE”

WISATA

Alamat Dan Harga Tiket Masuk The Village Purwokerto, Wisata Hits di Baturraden

WISATA

Jamur termahal di Indonesia
WhatsApp WhatsApp Redaksi