Home / DAERAH & DESA / HEADLINE

Jumat, 26 Februari 2016 - 09:23 WIB

Harga Rajungan Makin Murah, Nelayan Demak Gelisah

Desa Merdeka – Demak  : Salah satu hasil laut dari kawasan Demak adalah kepiting jenis rajungan. Nelayan dari Demak merupakan salah satu pemasok Rajungan untuk kebutuhan ekspor di provinsi Jawa Tengah. Meskipun hanya sebagai pengumpul saja namun hasil nelayan di Demak cukup besar. Hasil dari para pengepul itu biasanya di setorkan ke pabrik-pabrik pengekspor rajungan di daerah Pati dan Rembang.
Salah satu desa penghasil rajungan di kecamatan Wedung adalah desa Kedungmutih , Kedungkarang, Babalan . Ketiga desanya ini warganya ada yang hidup dari menjebak kepiting rajungan. Alat yang digunakan untuk menangkap kepiting ini tidak berupa jaring ,namun berbentuk alat penjebak. Dibuat dari besi dan juga waring.
Untuk mengoperasikan alat jebak ini nelayan membutuhkan umpan berupa ikan rucah. Setiap perahu nelayan membawa alat jebak ini 150 – 200 buah. Alat ini kemudian di jatuhkan ke dalam laut dengan menggunakan tali panjang. Jarak jebak satu dengan jebak yang lain sekitar 2-3 meter . Setelah umpan dijatuhkan bersama jebak beberapa jam kemudian jebak di angkat satu persatu begitu seterusnya.
Umam  (37) nelayan jebak kepiting asal desa Kedungmutih mengatakan , alat jebak kepiting ini merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Selain itu tidak memerlukan bahan bakar yang banyak. Bahan bakar biasanya untuk menghidupkan mesin jika berangkat atau pulang. Lain dengan jenis arad perahu harus terus jalan untuk menarik arad mengejar ikan.
“ Kalau alat ini tidak butuh banyak bahan bakar , sesampainya kita dilaut alat jebak kita beri umpan ikan rucah lalu kita jatuhkan ke laut . Setelah kita tunggu beberapa lama baru kita angkat satu persatu. Terus daerah tangkapan kepiting rajungan ini juga masih dipinggir “, ujar Syaiful pada kabaredemak.com
Dulu ketika harga kepiting bagus para nelayan penjebak kepiting penghasilan sehari-harinya cukup bagus. Namun beberapa tahun terakhir ini penghasilan nelayan jebak rajungan menurun drastic. Turunnya harga lebih separuh dari harga yang dulu. Sebelumnya kurang lebih setahun yang lalu harga rajungan paling besar perkilonya pernah mencapai Rp 70 ribu. Namun saat ini harga rajungan paling mahal sekitar Rp 37 ribu. Sedangkan yang kecil paling dihargaim pengepul Rp 25 ribu.
Dengan harga rajungan yang semakin turun membuat para nelayan resah dan gelisah. Pasalnya kebutuhan rumah tangga setiap waktunya semakin naik namun penghasilan semakin turun akibatnya biaya operasional untuk melaut sering kurang. Diantaranya perawatan mesin dan juga perahu dulunya bisa disediakan dari tabungan penghasilan kini tidak mencukupi lagi. Akibatnya dana yang digunakan untuk perawatan mesin, perahu dan alat tangkap tersedot untuk memenuhi kebutuhan harian.
“ Dulu ketika harga rajungan bagus saya bisa menabung yang tujuannya untuk perawatan operasional alat tangkap. Namun saat ini sudah tidak bisa lagi menabung hasil harian sedikit paling banter dapatnya Rp 200 ribu itupun sebulan tidak bis full karena cuaca yang buruk “, kata Syaiful.
Turunnya harga rajungan ini dibenarkan oleh Mufalihah pengepul rajungan dari desa Kedungmutih. Dulu sebelum turun harga perolehan nelayan bisa sampai Rp 500 ribu – 900 ribu . Tetapi semenjak harga rajungan turun paling banter nelayan mendapatkan hasil Rp 300 ribu itupun tidak tentu . Dengan harga yang turun itu setiap miyang nelayan perolehannya berkisar Rp 150 ribu – 200 ribu. (Muin) 

Share :

Baca Juga

HEADLINE

Menteri Khofifah Bikin E-Warung, Rentenir Bakal Gulung Tukar

DAERAH & DESA

Jalan Raya Menco – Babalan Demak Masih Butuh Perhatian

HEADLINE

Puluhan Buruh Bogor Terluka Akibat Bentrok dengan Ormas PP saat Unras

DAERAH & DESA

Tengku Erry: Australia Tertarik Kerja Sama Penggemukan Sapi

HEADLINE

Gempa bumi mengguncang pantai Mesir dan Kanto Jepang

HEADLINE

LAYAK atau TIDAK, ANGKUTAN LAUT DI MALUKU BERLAYAR ?

DAERAH & DESA

Ferry : Desa Harus Aktif Jemput Bola

HEADLINE

Desa diputuskan Dalam Dua Kementerian
WhatsApp WhatsApp Redaksi