Home / DAERAH & DESA

Rabu, 28 Maret 2018 - 15:54 WIB

Banjir dan Longsor di Sibolga, 3 Meninggal, 3 Rumah Rusak Berat

Desa Merdeka – Sibolga : Hujan lebat yang turun di wilayah Sibolga, Sumatera Utara sejak Senin (26/3/2018) pukul 15.00 Wib hingha 23.00 Wib telah menyebabkan banjir dan longsor.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, longsor tebing menimpa rumah di Kampung Baru Sikaje-kaje Kelurahan Aek Manis Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga (26/3/2018) pukul 19.00 Wib. Dua orang meninggal dunia, 1 luka berat dan 3 rumah rusak berat.

Korban meninggal adalah ibu dan anaknya yaitu Linda (35), sedang hamil dan Flara Citra (5). Satu anaknya lagi mengalami luka berat yaitu Stefani Claudya (9). Longsor datang ketika korban sedang menonton televisi.

Saat bersamaan juga terjadi banjir di Kelurahan Aek Muara Pinang Kecamatan Sibolga Selatan Kota Sibolga. Banjir menyebabkan seorang anak hanyut yaitu Aura Kasih Simanjuntak (2) yang ditemukan meninggal setelah terseret arus banjir. Korban ditemukan pada 26 Maret 2018 pukul 21. 30 WIB.

Baca Juga :  CARUT MARUT SELEKSI PERANGKAT DESA

“Tim SAR gabungan dari BPBD Kota Sibolga, TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, relawan dan masyarakat melakukan penanganan darurat. Saat ini banjir sudah surut. Korban telah diserahkan pada pihak keluarga,” kata Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Selasa (27/3/2018).

Dia mengungkapkan, hingga saat ini longsor adalah bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa. Selama tahun 2018 dari 1 Januari 2018 hingga 27 Maret 2018 terdapat 197 kejadian tanah longsor. Longsor menyebabkan 53 orang meninggal dunia, 60 orang luka-luka, 33.058 orang menderita dan mengungsi, 1.369 unit rumah rusak, dan 29 bangunan publik rusak.

Dibandingkan dengan jenis bencana lain, longsor adalah bencana yang mematikan. Selama 2018 ini, banjir menyebabkan 34 orang meninggal dunia, puting beliung 12 orang dan gempa 1 orang.

Bahkan sejak tahun 2014 hingga 2018 longsor menjadi bencana yang paling mematikan. Seringkali longsor tebing tidak terlalu besar, namun menimbun rumah di bawahnya sehingga satu keluarga menjadi korban.

Baca Juga :  Muin : Dana Desa Perlu Pengawasan

Masih kata Sutopo, banyaknya masyarakat yang terpapar dari potensi bencana longsir menyebabkan longsor memakan korban selama musim penghujan. Ada sekitar 40,9 juta jiwa masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan longsor tinggi hingga sedang. Kemampuan mitigasi mereka masih sangat minim.

Umumnya masyarakat yang menderita longsor adalah masyarakat yang kemampuan ekonominya di bawah. Mereka tinggal di lereng-lereng perbukitan, pegunungan atau tebing yang curam tanpa ada mitigasi yang memadai sehingga sangat rentan.

Pemerintah terus membangun dan meningkatkan mitigasi longsor. Namun masih terbatas. Saat ini baru terpasang sistem peringatan dini longsor sekitar 200 unit di Indonesia. Sedangkan kebutuhannya ratusan ribu unit.

“Penataan ruang harus benar-benar dikendalikan. Artinya zona berbahaya longsor sedang dan tinggi sebaiknya tidak untuk dikembangkan menjadi permukiman. Daerah tersebut hendaknya dijadikan kawasan lindung atau terbatas pengembangannya,” jelas Sutopo.

 

 

 

 

 

Sumber : SindoNews

Share :

Baca Juga

DAERAH & DESA

Positiv Bakudapa Warga Maluku dengan Sekjen Dewan Ketahanan Nasional
Hendra Syahputra Siregar

DAERAH & DESA

Komisi E Benarkan Ada Laporan Dugaan Pungli Perekrutan Pendamping Desa

DAERAH & DESA

KPK rilis peta potensi korupsi desa

DAERAH & DESA

Jabar Terancam Tak Punya Pendamping Desa

DAERAH & DESA

Rukyat Libatkan Pakar Falak dan Akademisi dari Berbagai PT

DAERAH & DESA

MARTHIN L. SUMAMPOUW HUKUM TUA KOLONGAN TERPILIH DILANTIK PANAMBUNAN

DAERAH & DESA

Kades Baru di Bandung Dapat Pembekalan Keuangan Desa

DAERAH & DESA

Dua desa korban abrasi parah di Pantura Tangerang
WhatsApp WhatsApp Redaksi