Home / HEADLINE

Senin, 8 Februari 2016 - 09:06 WIB

Ada Apa Dibalik Polemik Golkar

phas foto taswa witularDesa Merdeka – Taswa Witular : Hutan yang rimbun, indah dipandang mata, konon tempat yang nyaman bagi para penghuninya. Benar atau tidak, itulah sebuah hutan dalam kenangan yang terkisah dibuku –buku pada saat itu. Tiba – tiba, sekelompok pemburu masuk area hutan. Sang Raja pun menyiapkan pasukan untuk menghadang. Namun naas, sang Raja terkapar menyisakan isak tangis sesaat bagi para pengikut setianya. Hutan berubah iklim, hutan berganti ciri. Sebagaian dari pengikut sang Raja hutan membuat kandang baru agar tidak dicap loyalis si raja hutan, setelah istana hancur. sebagian tetap menempati kandangnya sembari melakukan konsolidasi dengan raja – raja pengganti. “kami iklas raja kami mati, kami serahkan kerajaan, tapi kami minta janganlah engkau membunuh kami” kira – kira itulah diplomasi para pengikut si raja Hutan yang enggan beranjak dari kandangnya.

Sebagian diantara pengikut dan keturunan sang raja hutan pun lari ke Gua. Sebelum berangkat ke Gua, gogor berpesan kepada mereka yang tidak ikut ke Gua : “berjuanglah disini, aku titipkan kandang ini, besok lusa aku kembali”. Di Gua, sebagian bertapa, sebagian jual beli dan keluar masuk Gua, sebagian lagi menjalani kehidupan baru tanpa niat keluar dari Gua lagi. Tahun berganti tahun, kehidupan di hutan seakan sudah terpisahkan dengan kenangan dijaman sang raja hutan yang binasa oleh para pemburu. Apa kabar dengan gogor di dalam Gua? tiba – tiba setelah lama bertapa, Gogor tersilaukan oleh sebuah cahaya yang masuk melalui celah. Gogor menggeliat, naluri berkuasanya muncul. Gogor bangkit, jiwa kelahinya membara. Gogor berjalan perlahan, dia meloncat niat hati menembus celah. Namun gogor terhempas karena celah belumlah dapat dikata lubang. Gogor tak lantas menyerah. Besok lusa dia akan kembali demi menuntaskan gairahnya, menemui pengikut yang sedari dulu menempati kandang buatan induknya, lalu meneruskan kekuasaan sang induknya. Hingga akhirnya Kesempatan itu datang, nyata dimata gogor. Sebuah celah disebelah lubang utama yang biasa dipakai keluar masuk Gua. Gogor tengadah, dari mulutnya yang terkatup terdengar auman manja memikat hati para pecintanya.

Pembaca yang budiman, synopsis kisah di Atas merupakan deskripsi penulis tentang garis perjalanan bangsa ini. Era Soeharto telah berganti, seiring system yang berbeda, dinamikanya pun senantiasa berganti –ganti. bagaikan air beserta ombak lautan yang sukar ditebak pasang surutnya, sulit diukur kemunculan dan ketinggian gelombangnya oleh orang yang tidak hidup di zona perairan. Media masa dan Partai politik yang pada jaman Soeharto terbatas keberadaannya, kini menjadi fenomena baru dalam peta politik dengan adanya kebebasan pers maupun kebebasan mendirikan parpol.

Tiga parpol dijaman Soeharto masih tetap mengikuti kontes –kontes yang ada (PDIP,PPP dan Golkar). Dalam perkembangannya, secara umum dua partai lama yakni PDIP dan Golkar tetap menjadi bintang kontes meski tentu saja tak lepas dari dinamika internalnya. Jika dulu Di PDIP ada faksi alm. Taufik Kiemas dan faksi Megawati. Kini di Golkar muncul pula dua faksi. Para pengamat mengatakan faksi ini dibuat dengan skema yang dirancang oleh pemerintah yang berkuasa dengan tujuan menarik Golkar sebagai salah satu partai yang memiliki banyak kursi di DPR untuk menjadi koalisi pemerintah. Apakah demikian adanya? dan siapakah Gogor yang penulis sebut dalam prolog? Mari kita berfantasi politik, menggunakan teori probabilitas untuk melihat dibalik kekisruhan partai Golngan Karya (Golkar).

Baca Juga :  Solo run diera Pragmatisme

Pembaca yang budiman, penulis dalam kisruh Golkar melihat ada 3 kemungkinan penyebab.

  1. Kesepakatan Abu Rizal Bakrie (ARB) dan Agung laksono (AL) untuk melakukan sandiwara.
    Sejarah mencatat, Golkar selalu berada pada lingkaran penguasa. Bahkan secara terang – terangan politikus Golkar (Ade Komarudin) yang kini jadi Ketua DPR RI menyatakan bahwa Golkar terlahir bukan untuk menjadi oposisi. .Seperti kita ketahui, ARB sebagai Ketua Umum Golkar sejak Pemilihan Presiden 2014 lalu menempatkan partainya pada posisi oposisi bersama Gerindra. Berkali – kali ARB mengatakan selama dirinya jadi Ketum Golkar, maka partainya akan tetap berada pada brisan Prabowo (icon oposisi).  Dari sinilah kemungkinan pertama ini kita bisa membuatnya. Bisa dibayangkan, ketika tiba-tiba Golkar masuk koalisi pemerintah, Cap penjilat ludah sendiri akan sangat tebal dari KMP (koalisi oposisi). Namun jika keadaan di dramatisir, baik KMP maupun rakyat akan mengira perubahan arah politik Golkar adalah terpaksa, yakni demi keutuhan partai dan atau keabsahan ARB sebagai Ketum.
  2. Kesepakatan AL dengan Akbar Tandjung (AT), untuk menjungkalkan ARB dengan alasan ARB tidak laku dan tidak mampu memasarkan partai dimana puncaknya adalah hasil survey elektabilitas capres Golkar. ARB bahkan merusak citra Golkar dengan kasus Lapindo.  Kemungkinan ini bisa saja nyata karena kita ketahui AT dan AL adalah pejuang Golkar dimasa pasca runtuhnya orde baru. AT yang saat itu menjadi Ketum berhasil membawa Golkar lolos dari serangan degradator. Keberadaan Golkar sebagai organisasi politik berhasil dipertahankan. Ketika kemudian suasana politik nyaman didapat oleh Golkar namun Golkar tidak bisa menempatkan kadernya sebagai orang nomor satu, wajar saja AT dan AL sebagai seniornya ARB merasa kurang puas.
  3. Kesepakatan AL dengan pemerintah dengan tujuan mendudukan AL untuk selanjutnya Golkar menjadi bagian dari koalisi pemerintah. Dalam hal ini pemerintah butuh dukungan DPR (Golkar memiliki kursi yang berpengaruh di DPR) dan AL butuh kekuasaan. Penulis melihat kemungkinan hal ini sangat kecil. Adapun campur tangan pasca terjadinya konflik memang sangat besar. Sepertinya Pemerintah melihat ada kesempatan untuk “menaklukan” Golkar dalam pada ini. Namun justru penulis melihat ada kesalahan melihat dari sikap politik pemerintah dalam memanfaatkan moment ini.
  4. kesepakatan antara kubu AL dengan “gogor” (diketahui/tidak diketahui AT). Inilah kemungkinan terbesar yang penulis sangkakan. Keterlibatan JK dalam hal ini penulis pandang bukanlah dari unsur pemerintah, namun lebih pada senioritasnya di Golkar seperti halnya keterlibatan BJ Habibie. Apakah JK Hadir dengan memerankan diri sebagai pemerintah ataukah sebagai kader Golkar yang dibesarkan oleh Soeharto? Bisa dilihat setelah nanti Ketua Umum Golkar hasil Munaslub terpilih. Gogor atau loyalis Gogor ataukah boneka pemerintah? Jika aslinya kisruh Golkar ini dipicu oleh nomor 4, maka jelaslah keputusan Pemerintah untuk memihak AL sangat salah. Itu sebabnya penulis melakukan seloroh di media social “seharusnya pemerintah merangkul ARB”.
Baca Juga :  Ketidakmampuan vs Ketidakmauan

Pembaca yang budiman, pasca disepakatinya Munaslub Golkar, baik ARB maupun AL menyatakan tidak akan mencalonkan kembali sebagai Ketum. Hal ini seakan mengindikasikan sikap menyerah dari ARB. Menyerah karena ARB menyadari dibalik AL ada gogor. Sepertinya kemudian ARB benar – benar menggantungkan diri kepada pemerintah sehingga kini bukan jabatan Ketum yang dikejarnya, tapi sebatas kelangsungan karir politik untuk kepentingan utama yakni bisnis. Penciuman ARB ini tentu saja ketika disampaikan kepada pemerintah, membuat pemerintah tercengang. Sehingga kesan perubahan keberpihakan pemerintahpun nampak sebagaimana dikesankan media. AL sendiri tidak bisa dikatakan menyerah walaupun mengaku tidak akan mencalonkan Ketum di Munaslub, karena sejak awal AL bermanuver semata – mata untuk Gogor. Indikasi lain akan besarnya kemungkinan nomor 4 di Atas adalah totalitas gogor di Partai asuhannya. Gagal menjadi Ketum Golkar pada pemilihan Ketua Umum di Munas Riau 2009, Gogor kemudian mendirikan partai baru, namun gagal verifikasi.selanjutnya ditahun 2015 Gogor kembali mendirikan partai politik (secara structural Gogor tidak tercantum sebagai pengurus namun para petinggi partai tersebut acap kali melakukan komunikasi dengan cendana). Anehnya, totalitas cendana dan atau Gogor sangat minim.

Bukankah idealnya jika partai tersebut hendak dijadikan kendaraan, harus sudah mulai ditata? jangan – jangan ini hanya sebagai pengalih isu dari skema yang Gogor lakukan dalam aksinya meraih kursi supir di Golkar? Penulis menilai Gogor tidak bisa menerima sosok ARB sebagai Ketum “partai bapaknya”. Beberapa statement yang mengindikasikan hal tersebut kerap terdengar dari cendana. Bahkan dari Gogor lah sebenarnya Munaslub itu dirancang. Caranya ya dengan motif penyelamatan. Dan apakah gembar gembor para elit Golkar akan pentingnya tokoh muda Golkar yang harus jadi Ketum selanjutnya tidak cukup bagi kita untuk mengindikasikan adanya undangan bagi Gogor? Siapa lagi tokoh muda itu? Ade Komarudin tidak mungkin ! Orang yang berama-sama Bunyamin Dudih membesarkan Bupati Dedi Mulyadi ini tidak mudah melakukan manuver disaat ini. Setya NOvanto? Lebih tidak mungkin lagi. Idrus Marham? Jangan disebut. Tentu saja jika kemudian tidak terjadi lagi perubahan skema

Golkar memang partai keluarga sebagaimana Demokrat dan PDIP. Jika ingin hidup bersama ruhnya maka berikanlah kesempatan itu kepada pemegang ruh tersebut. Jika PDIP ada di Megawati, maka Golkar ada di Gogor. Maka peta politik akan semakin seru ketika dua anak jawara dengan kendaraan rakitan bapaknya masing – masing berada pada sirkuit yang sama.

Kini Gogor kembali mendapat kesempatan melalui Munaslub. Akan kah scenario Gogor mulus? Ataukah justru lawan utamanya yakni Pemerintah yang menggunakan jasad ARB mampu meredam gairah sang Gogor?

Apapun fenomenanya dan bagaimanapun endingnya, semoga ini menjadi bahan untuk rakyat Indonesia. Rakyat semakin cerdas dan persaingan politik membawa bangsa pada perjalanan yang nyaman dalam mengarungi samudra menuju tujuan bersama yaitu menjadi bangsa yang sejahtera dan bermartabat.

Taswa Witular ( Kang Away ), tinggal di . Subang Jawa Barat / 08522238xxxx / witulartaswa@gmail.com

Share :

Baca Juga

HEADLINE

500 Jabatan Perangkat Desa se-Kabupaten Lumajang Kosong

HEADLINE

Tujuh Poin Revisi UU Pilkada Versi DPR RI

HEADLINE

Kemendes Entaskan 5 Ribu Desa Sehat dan Cerdas
Kejar Program Pangan Dunia

HEADLINE

Kejar Program Pangan Dunia, Presiden Jokowi Minta Dana Desa Dinaikan Jadi Rp 120 Triliun
Mendes Eko: 2019, Alokasi Dana Desa Rp 111 Triliun

HEADLINE

Mantap! Mendes Eko: 2019, Alokasi Dana Desa Rp 111 Triliun

HEADLINE

Kemendes dorong RUU Percepatan Daerah Tertinggal

HEADLINE

Koalisi Selamatkan BPK Tuntut Harry Azhar Azis Dicopot

HEADLINE

Cegah Krisis Pangan Nasi(onal)
WhatsApp WhatsApp Redaksi